Rabu, 03 Oktober 2012

Rahman Tolleng Awards Digagas Pers Mahasiswa se-Sumatera

Ilustrasi

Rahman Tolleng Awards Digagas Pers Mahasiswa se-Sumatera.Pertemuan pers mahasiswa se-Sumatera di Asrama Universitas Negeri Medan yang diikuti oleh 26 pers mahasiswa se-Sumatera menghasilkan suatu gagasan yang belum pernah ada. Pertemuan selama tiga hari mulai 29 September hingga 1 Oktober 2012 berhasil menggagas Rahman Tolleng Awards.

Acara pertemuan pers mahasiswa se-Sumatera itu diselenggarakan oleh Tempias, yang juga didirikan oleh perss mahasiswa se-Sumatera.


Kenapa memilih tokoh Rahman Tolleng? Ia adalah orang kritis dan berani.Ia menjadi pimpinan Mahasiswa Indonesia sampai 1972. Bicara media Mahasiswa Indonesia tak lepas dari bicara politik, ideologi dan kritikannya sebagai kalangan pers.

Di tahun 1966, para pendiri Mahasiswa Indonesia berpendapat pers Indonesia adalah pers yang tidak mampu dan tak berdaya dan mengabdi pada kepentingan penguasa. Mahasiswa Indonesia lahir pada Juni 1966. Tujuannya, selain corong bagi gerakan Keasatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Bandung tapi juga perkenalkan sebuah gaya jurnalistik baru, lebih hidup, lebih kritis dan lebih dinamis.

Rahman Tolleng Awards adalah sebuah penghargaan yang akan diberikan kepada penulis muda dibawah usia 37 tahun. Salah seorang pendiri Tempias, yang juga panitia Novita Sari Simamora menyatakan bahwa Rahman Tolleng yang memimpin Mahasiswa Indonesia sejak awal lakukan serangan gencar dan berani pada Soekarno dan mereka berhasil membuat gaya baru dalam jurnalisme Indonesia dengan kecaman-kecaman keras, informasi ekslusif dan mengemparkan.

“Kriteria penerima Rahman Tolleng Awards ini adalah penulis muda se-dunia dibawah usia 37 tahun. Angka tersebut dipilih karena pada usia 37 tahun, Rahman Tolleng dipenjara dan pada usia itu perjuangannya berakhir,” ucapnya dalam siaran pers.

Penyelengga Rahman Tolleng Awards ini diserahkan kepada Yayasan Pantau Jakarta. Andreas Harsono menghadiri pertemuan sebagai pemateri sekaligus mewakili Yayasan Pantau Jakarta. “Yayasan Pantau bersedia menyelenggarakan Rahman Tolleng Awards dan ini akan saya sampaikan pada pengurus tahun ini,” tegasnya.

Pemateri lainnya yang hadir adalah Chik Rini dari WWF Aceh yang datang menyuguhkan keadaan politik, Putri korban dari kesalahan pers dalam peliputan dan Aceh sebagai provinsi terkorup nomor dua se-Indonesia.

Adapun perserta yang hadir dari lembaga Lensa Unmuha, Kreatif Unimed, Suara USU, Teropong UMSU, Dinamika IAIN, Bahana Mahasiswa Universitas Riau, Aklamasi Universitas Islam Riau, SPS Pekanbaru, Ganto Universitas Padang dan Jikalahari. Acara ini juga didukung oleh Coca-Cola dan Pusat Studi sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.(http://www.dnaberita.com-relmdn|ams)